Risalah Aqiqah

Risalah Aqiqah

abc farm ahsan aqiqah domba online (2)Do’a-do’a
Do’a untuk orang yang baru saja dikaruniai anak:
“Semoga Allah memberimu berkah pada anakmu, dan semoga engkau bersyukur kepada Yang Maha Pemberi, sampai ia dewasa dan engkau mendapatkan kebaikannya.”
Do’a untuk anak:
“Aku mohon perlindungan untukmu dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap syetan, dan segala yang beracun, dan dari setiap pandangan yang penuh kebencian”. [HR. Bukhari]
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan buku yang insya-Allah dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat sekalian.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada junjungan kita Rasulullah SAW, keluarganya, para sahabatnya serta para pengikutnya yang senantiasa istiqmah mengikuti sunnahnya.
Melihat semakin jauhnya genrasi muslim saat ini dari sunnah-sunnah yang pernah diajarkan Rasulullah SAW, baik dalam hal aqidah, syari’ah, akhlak maupun mu’amalah. Maka untuk mengembalikan kaum muslimin menjadi insan kamil dan mutakmil diperlukan usaha dari semua pihak untuk bahu membahu mengembalikan kesadaran kaum muslimin.
Tulisan ini sekedar mengingatkan akan sebuah sunnah yang dahulu akrab dengan kehidupan kaum muslimin sebagai ummat yang dirahmati dan diberkahi Allah SWT.
Semoga buku yang sederhana ini dapat bermanfaat dan bisa dijadikan panduan oleh kaum muslimin dalam melaksanakan aqiqah. Kritik dan saran yang membangun selalu kami harapkan demi kebenaran dan kemurnian syari’at Islam.

Makna Aqiqah
Kata aqiqah berasal dari kata Al-Aqqu yang berarti memotong (Al-Qoth’u). Al‐Ashmu’i berpendapat: “Aqiqah asalnya adalah rambut di kepala anak yang baru lahir”. Kambing yang dipotong disebut aqiqah karena rambut anak tersebut dipotong ketika kambing itu disembelih.
Aqiqah dalam istilah agama adalah sembelihan untuk anak yang baru lahir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dengan niat dan syarat‐syarat tertentu. Oleh sebagian ulama disebut dengan nasikah atau dzabihah (sembelihan).

Hukum Melaksanakan Aqiqah
Nabi SAW bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi nama, dan dicukur”. [HR. At‐Tirmidzi]
Dalam hadist lain Nabi SAW bersabda,  “Sesungguhnya anak itu diaqiqahi. Maka tumpahkanlah darah baginya dan jauhkanlah penyakit daripadanya (dengan mencukur rambutnya)”. [HR. Bukhari]
Aqiqah adalah tanda syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat anak yang diberikan-Nya. Juga sebagai washilah (sarana) memohon kepada Allah SWT agar menjaga dan memelihara sang bayi.
Dari hadits di atas, para ulama menjelaskan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi para wali bayi yang mampu, bahkan tetap dianjurkan, sekalipun wali bayi dalam kondisi sulit.

543773_4494108225554_147119162_nSyarat Hewan Aqiqah
Hewan yang layak untuk dijadian sembelihan aqiqah atau qurban adalah kambing atau domba yang sehat dan tidak cacat. Semakin besar dan gemuk tentu semakin baik. Seperti hadist berikut yang berbunyi : Rasulullah SAW bersabda “Empat hal yang tidak boleh disembelih qurban, yaitu kambing yang matanya buta sebelah, sakit, pincang dan yang sudah tua yang sudah tidak ada sumsumnya”. [HR. Ahmad]
Baik dalam aqiqah maupun udhiyah (kurban) tidak ada persyaratan bahwa hewannya harus jantan atau betina. Keduanya bisa dijadikan sebagai hewan aqiqah atau kurban. Akan tetapi yang lebih diutamakan adalah hewan jantan agar kelangsungan reproduksi hewan tersebut tetap terjaga.

Jumlah Hewan Aqiqah
Bayi laki‐laki disembelihkan dua ekor kambing/domba dan bayi perempuan cukup satu ekor kambing/domba saja. Hal tersebut berdasarkan hadist dari Ammi Karz Al‐Ka’biyah berkata bahwa saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Untuk bayi laki-laki disembelihkan dua ekor kambing yang setara (sama besarnya) dan bayi wanita satu ekor kambing”. [HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Nasai]

Waktu Pelaksanaan Aqiqah
Pelaksanaan aqiqah menurut kesepakatan para ulama afdholnya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadits Samirah di mana Nabi SAW bersabda, “Seorang anak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh, diberi nama dan dicukur”. [HR. At-Tirmidzi]
Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke‐14. Dan jika tidak juga, maka pada hari ke‐21 atau kapan saja ia mampu. Imam Malik berkata: “Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) atas dasar anjuran, maka sekiranya menyembelih pada hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah cukup”.
Namun demikian, jika ternyata ketika kecil ia belum diaqiqahi, ia bisa melakukan aqiqah sendiri di saat dewasa. Satu ketika al‐Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “Ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri?” Imam Ahmad menjawab, “Menurutku, jika ia belum diaqiqahi ketika kecil, maka lebih baik melakukannya sendiri saat dewasa. Aku tidak menganggapnya makruh”.
Para pengikut Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Menurut mereka, anak‐anak yang sudah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri. Wallahualam.

Tata Cara Pelaksanaan Aqiqah
Bagi yang hendak melakukan aqiqah untuk anaknya sendiri dan dia memiliki kemampuan dan kecakapan untuk memotong kambing maka sebaiknya dia menyembelihnya sendiri.
Adapun tata cara pelaksannya yaitu dengan menajamkan pisau yang hendak digunakan untuk memotong hewan. Kemudian membaringkan hewan tersebut dan menahannya dengan kaki, barulah kemudian menyembelihnya dengan diikuti dengan bacaan basmalah dan takbir. Seperti yang disebutkan dalam hadist berikut, dari Anas bin Malik ra. menyatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan qurban dengan dua kambing, beliau membaca basmalah dan takbir, kemudian beliau letakan kakinya di atas sisi samping kambing itu. Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengucapkan “Bismillahi wallahu akbar”.
Sebagian ulama berpendapat agar aqiqah itu disembelih atas nama anak yang dilahirkan. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir dari Aisyah r.a.: Nabi saw. bersabda: “Sembelihlah atas namanya (anak yang dilahirkan), dan ucapkanlah, Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, bagi-Mu-lah dan kepada-Mu-lah persembahkan ‘aqiqah si Fulan ini”.
Akan tetapi, jika orang yang menyembelih itu telah berniat, meskipun tidak menyebutkan nama anak itu, maka tujuannya sudah tercapai. Wallahualam.

Yang Berhak Memakan Daging Aqiqah
Mereka yang paling layak menerima sedekah adalah orang fakir dan miskin dari kalangan umat Islam, begitu juga dengan aqiqah, mereka yang paling layak menerima adalah orang miskin dikalangan umat Islam. Walau demikian berdasarkan beberapa hadis dan amalan Rasulullah SAW dan sahabat, kita disunatkan juga memakan sebahagian daripada daging tersebut, bersedekah sebahagian dan menghadiahkan sebahagian lagi. Wallahualam.
Memberi Nama dan Mrncukur Rambut
Nama bermakna doa atau cita-cita. Sehingga dianjurkan untuk memberi nama yang bagus bagi anak yang baru lahir, karena setiap panggilan terhadapnya merupakan doa baginya dan setiap mengingat namanya maka mengingatkan akan cita-cita kehadirannya ke dunia. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya kalian akan diseru pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian, maka perbaguslah nama kalian”. [HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban]
Memberi nama anak dengan memilihkannya nama-nama yang baik, lalu mencukur rambutnya, kemudian bersedekah senilai harga emas atau perak yang setimbang dengan berat rambutnya adalah anjuran Nabi yang sangat baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru lahir pada hari ketujuh. Seperti yang tercantum pada hadist berikut: Rasulullah SAW Bersabda, “Setiap anak terikat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi nama, dan dicukur”. [HR. At‐Tirmidzi]

PENUTUP
Demikianlah tulisan ringkas yang dapat kami sampaikan kepada ikhwan dan akhwat sekalian. Mudah-mudahan aqiqah yang kita laksanakan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW dan semoga anak-anak kita yang diaqiqahi mendapat rahmat, inayah, serta dilindungi Allah SWT dari godaan syaitan yang terkutuk. Serta semoga mereka kelak menjadi anak-anak yang sholih/ sholihah yang berguna bagi keluarga, bangsa dan agamanya. Aamiin.

Untuk Pemesanan Aqiqah dan Qurban Hubungi:

Jl. Koramil No. 06 RT 02/03 Desa Purwasari, Cicurug – Sukabumi
Telp. (0266) 731424, HP. 08128229547

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *